Jumat, 17 Agustus 2007

Roman Jatuhnya Benteng Batu Putih

Judul: Jatuhnya Benteng Batu Putih(Bagian Tidak Terpisahkan dari Roman Kota Palopo yang Terbakar)
Penulis: Musytari Yusuf
Penyunting: armin Mustamin Toputiri
Penerbit: toACCAe Publishing
Halaman:
Terbit:
ISBN: 979-1226-00-8

Sinopsis:

Karya sastra berbentuk roman ini, merupakan bagian tidak terpisahkan --- meskipun bukan satu kesatuan kelanjutan alur cerita --- dari roman sebelumnya yang juga ditulis Musytari Yusuf, ”Kota Palopo yang Terbakar”, yang sebelumnya juga diterbitkan toACCAe Publishing.

Kalau pada roman sebelumnya mengambil seting sepuluh tahun setelah pasukan KNIL membakar Kota Palopo, mengisahkan bagaimana petualangan Patiwiri mencari jejak Andi Radjab untuk membunuhnya, yang dia ketahui memiliki andil besar sehingga Haerani isterinya memilih jalan bunuh diri, karena merasa dirinya sudah tercemar akibat perbuatan ”tercela” dari Kapten de-Bloem, komandan pasukan KNIL, di tangsi pasukan Belanda.

Sementara pada roman ”Jatuhnya Benteng Batu Putih” ini, justru mengambil kisah pada saat peristiwa masa pergolakan awal kemerdekaan berlangsung. Ketika Kota Palopo sudah dikepung dan dibakar pasukan Belanda, sejumlah rakyat bersama Datu Luwu Andi Jemma memilih menyingkir dan menyeberang ke daerah Pomalaa, Kolaka dan sekitarnya.

Di wilayah bagian Kolaka Utara Propinsi Sulawesi Tenggara sekarang inilah roman ini berkisah tentang pertempuran antara pasukan Pembela Keamanan Rakyat (PKR) yang bertahan di suatu tempat yang disebut Benteng Batu Putih, menghadapi gempuran pasukan NICA.

Alur kisah yang terungkapkan dalam roman yang pernah diterbitkan pada awal era tahun 1970-an ini begitu mengasyikkan. Salah satu alur dialog yang menarik dalam roman ini dapat diungkapkan sebagai berikut:

Kalau saya gugur, Adi. Saribunga milikmu seratus persen”, kata Bahmid yang sedang tiarap memegang senapan di sebelah Saribunga. Tetapi sebaliknya jika kau yang gugur, dia adalah milikku seratus persen!”
 

”Kalau begitu aku dan kau masing-masing hanya memiliki separuh Saribunga saja?”, kata Adi.
 

”Cuma satu yang kucemaskan”, sela Saribunga. ”Jangan-jangan di antara kamu ada yang menembak dari belakang di dalam pertempuran nanti”
 

”Akulah sedianya yang melakukan itu, Sari. Tetapi percayalah bahwa Bahmid yang sekarang, bukan lagi Bahmid yang lama”, ujar Bahmid.
 

”He, bagaimana macamnya Bahmid yang baru itu?”, tanya Saribunga.
 

”Sari, kau dan Adi telah mengilhami jiwa kesatria kepadaku. Semula aku bergerak dalam perjuangan ini hanya ikut-ikutan. Semata-mata hanya untuk memuaskan jiwa petualangan dan segala nafsu rendahku”
 

”Dan sekarang?”, tanya Sari.
 

”Sekarang aku berjuang dengan cita-cita luhur untuk membela proklamasi kemerdekaan!”, jelas Bachmid.
 

”Tentu kau tidak akan berlaku pengecut lagi seperti pada pertempuran laut dulu”, terpis Saribunga.
 

”Akan kubuktikan sebentar lagi ini, Sari”, tandas Bachmid.
 

“Moga-moga tidak sia-sia, aku memberi semangat hidup padamu, Mid”, sela Adiwijaya.

Tidak ada komentar: